KBMN
GEL 35 PGRI
DAY
8: 8 Oktober 2026
SO ROMANTIC! KISAH "JODOH" SEORANG PENDIDIK
DAN TEKNOLOGI MASA KINI
Dhama Ady Saputra
Dulu, ketika pertama kali menginjak pedal
gas dan serius menyelami dunia kepenulisan di tahun 2021, perlengkapan perang
saya simpel sekali. Hanya ada satu unit laptop untuk mengetik huruf demi huruf,
plus koneksi internet seadanya untuk mencari ide atau bahan bacaan.
Lalu memasuki pertengahan tahun 2022,
jagat raya mendadak heboh dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI)
alias Kecerdasan Buatan. Berbagai aplikasi serba AI bermunculan seperti jamur
di musim hujan.
Tapi respons saya saat itu? Bergeming!
Jujur saja, saya bukan tipe technology
enthusiast yang rajin memburu tren teknologi terbaru. Bisa dibilang, saya
ini dulunya "kudet" alias kurang update—dengan setumpuk alasan
pembenaran yang siap dilontarkan:
"Ngapain sih ikut-ikutan update?
Harus belajar dari nol lagi... ribet ah! Pokoknya yang biasa-biasa aja!"
Sementara saya masih betah
"bertapa" dalam nada skeptis, teman-teman di sekitar saya sudah curi start.
Mereka mulai rajin bercerita dengan mata berbinar-binar tentang betapa ajaibnya
AI: pekerjaan selesai kilat, ide tak pernah mampet, dan hasil karya jadi jauh
lebih kreatif.
Hingga suatu hari, saya iseng mengikuti
sebuah webinar tentang AI (kalau tidak salah ingat, temanya seputar cara
praktis membuat bahan ajar dan Lembar Kerja Peserta Didik/LKPD). Nah, dari
sanalah "lampu gantung" di kepala saya mendadak menyala terang
benderang!
Ternyata, apa yang diucapkan teman-teman
saya itu bukan bualan belaka. Begitu saya coba mempraktikkannya sendiri,
manfaatnya langsung terasa nyata!
Ada dua area utama dalam hidup saya yang
mengalami revolusi besar setelah bersahabat dengan AI:
1.
"Asisten Pribadi" Penyunting Naskah & Penambang Ide
Dulu, waktu proses self-editing
(menyunting tulisan sendiri), saya melakukannya secara manual baris demi baris.
Menguras waktu dan energi! Tapi begitu berkenalan dengan AI, proses
penyuntingan naskah jadi secepat kilat.
Manfaat ini makin terasa berkali-kali
lipat saat saya bertugas mengedit tulisan murid-murid di sekolah. AI sangat
ampuh memangkas waktu kerja dan menyediakan ide-ide segar. Saya tinggal
memasukkan prompt sederhana, contohnya: "Edit tulisan ini menjadi
tulisan yang menarik, mudah dibaca, dan inspiratif tanpa mengubah jalan cerita
aslinya."
Atau saat kepala sedang buntu mencari
judul, saya tinggal mengetik: "Buatkan 10 alternatif judul yang menarik
dan menjual yang sesuai dengan isi tulisan ini."
Voila! Berbagai pilihan
judul segar langsung tersaji di depan mata. Saya benar-benar menikmati waktu
"kebersamaan" dengannya. Seakan-akan, AI ini sudah jadi belahan jiwa
dalam berkarya. So romantic!
2.
Penyelamat Tim Media Publikasi Sekolah
Sebagai salah satu anggota tim media
publikasi sekolah, AI jadi "kartu AS" saya dalam menghasilkan aset
visual. Saya tinggal memasukkan foto atau gambar, menyisipkan beberapa kalimat
instruksi, dan... jadilah gambar yang unik dan estetik!
Ya, walaupun kadang harus sedikit bersabar
karena hasil gambarnya sering kurang konsisten kalau diedit berulang kali (muka
di foto asli suka mendadak berubah jadi orang lain kalau diedit 2-3 kali!).
Tapi secara keseluruhan, prosesnya tetap sangat membantu dan menyenangkan.
Selama delapan hari menempuh tantangan
KBMN PGRI Gelombang 35 ini, kehadiran AI benar-benar menjadi penyelamat hidup
saya. Setiap kali Om Jay membagikan tema harian, saya langsung menumpahkan
seluruh isi pikiran dan rasa dari dalam hati ke dalam draf tulisan.
Setelah draf kasar selesai, barulah saya
berikan sedikit "sentuhan ajaib" AI untuk memoles dan merapikan
bahasanya agar makin renyah dibaca. Hasilnya? Luar biasa memuaskan dan hemat
waktu!
Tentu saja, setiap teknologi selalu punya
dua sisi mata uang: plus, dan minus.
Secara etimologi, kata teknologi
berakar dari bahasa Yunani technē (yang berarti "seni, kerajinan,
atau keahlian") dan logos (yang berarti "kata, ucapan, atau
ilmu"). Pada hakikatnya, teknologi diciptakan untuk mempermudah pekerjaan
manusia.
Saya sangat sadar: AI memang super
pintar, tapi manusialah yang memegang kendali kebijaksanaan. Baik atau
buruk dampak AI, semuanya kembali lagi pada siapa dan bagaimana ia digunakan.
Saya memilih untuk tidak membuang energi
berfokus pada sisi negatifnya. Saya lebih memilih memetik manfaat positifnya:
waktu kerja jadi ringkas, target karya terpenuhi, dan setiap hari saya makin enjoy
mempelajari hal-hal baru.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah bersahabat
dengan AI hari ini?
Daftar Pustaka:
1. Britannica, T. Editors of Encyclopaedia. (2024, 19 September). Technology. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/technology/technology.
2. Humas DJKN. (2022, 19 Mei). Artificial intelligence (AI) pembantu pekerjaan manusia. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara - Kementerian Keuangan Republik Indonesia. https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-jakarta/baca-artikel/16291/Artificial-Intelligence-AI-Pembantu-Pekerjaan-Manusia.html.
3. Saputra, D. A. (2026, 1 Oktober). Mengapa saya menulis? Dialektika Hati Insani. https://dialektikahatiinsani.blogspot.com/2026/10/kbmn-gel-35-pgri-day-1-mengapa-saya.html.

Komentar
Posting Komentar