Postingan

Gambar
  KBMN GEL 35 PGRI DAY 4: 4 Oktober 2026   “ADHANG-ADHANG TETESE EMBUN” Dhama Ady Saputra   " Adhang-Adhang Tetese Embun . Ojo ngoyo nggayuh lintang yen lali nyawang tetese embun, mergo kabegjan sejati asring teko seko perkoro cilik sing disyukuri." Terjemahan bebasnya kurang lebih begini: " Menantikan menetesnya embun . Jangan terlalu memaksakan diri mengejar bintang jika sampai lupa melihat tetesan embun, karena kebahagiaan sejati sering kali datang dari hal-hal kecil yang disyukuri." Kalimat indah bernuansa filosofis itu saya temukan tadi pagi saat sedang dalam perjalanan keluar kota bersama keluarga. Tulisan tersebut terpatri rapi di bak belakang sebuah truk yang melaju tepat di depan mobil kami. Tanpa tunggu lama, saya langsung merogoh saku, mengambil ponsel, lalu mengabadikannya. (Disclaimer: Ini terjadi pas di pertigaan lampu merah ya, jadi dijamin super aman dan bebas tilang!). Sederhana... menarik... tapi dampaknya langsung meresap dalam k...
Gambar
  KBMN GEL 35 PGRI DAY 3: 3 Oktober 2026     CEBOKAN PAK GURU DAN KETEGASAN BU GURU Dhama Ady Saputra   William Arthur Ward (1921–1994), salah satu penulis kutipan inspiratif paling kondang dari Amerika Serikat, pernah menuturkan kalimat legendaris yang begitu menyentuh: "Guru yang biasa-biasa saja hanya memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang unggul mendemonstrasikan. Guru yang hebat menginspirasi." Saat pertama kali membaca kutipan itu, dahi saya otomatis berkerut. Saya terdiam sejenak dan mulai mengira-ngira: ternyata, dunia keguruan itu ada level-levelnya, ya? Lalu, refleks saya mulai menghitung level diri sendiri: Level 1 (Biasa-biasa saja): Kalau saya sekadar memberi tahu murid tentang materi, adab, sopan santun, atau kebiasaan positif, ternyata saya masih berada di pijakan paling dasar. Padahal, jujur saja, untuk menjadi guru yang "sekadar biasa" pun butuh daya juang yang menguras keringat dan waktu yan...
Gambar
  # KBMN GEL 35 PGRI # DAY 2   PENGALAMAN MENGUNJUNGI MURID Dhama Ady Saputra               "Malu bertanya, sesat di jalan." Pepatah lama yang sering kita dengar sejak kecil itu mendadak jadi mantra sakti dan penyelamat hidup saya beberapa tahun yang lalu. Saat itu, memori saya melayang ke masa-masa mengajar di sebuah SMK yang bertengger cantik di lereng gunung. Secara geografis, daerahnya berudara dingin menusuk tulang dengan kontur tanah yang menguji ketahanan betis—naik-turun luar biasa. Sebagian murid memang tinggal di sekitar sekolah, tapi tidak sedikit yang rumahnya berada di desa-desa tertinggi, bertetangga langsung dengan puncak gunung. Waktu itu, saya dipercaya menjadi wali kelas. Salah satu "agenda wajib" yang saya rancang adalah datang dan bertamu ke rumah murid-murid saya. Total ada 25 rumah yang siap disinggahi.   Prinsip saya simpel: selesaikan yang paling berat dulu! Jadi, saya mulai dari murid yang r...
Gambar
KBMN GEL 35 PGRI DAY 1   MENGAPA SAYA MENULIS? Dhama Ady Saputra   "Mengapa kamu menulis?" Sebuah pertanyaan yang rasanya begitu gampang diucapkan, tapi lucunya, sering bikin saya mendadak terdiam. Perlu menghela napas sejenak dan menata barisan kata yang pas untuk menjawabnya. Kalau mengintip KBBI, menulis itu sederhananya adalah melahirkan pikiran atau perasaan ke dalam tulisan . Tapi buat saya pribadi, dampaknya jauh lebih dalam dari sekadar definisi di kamus.   Menarik garis kenangan jauh ke masa kecil, saya ini tipe anak yang serba penasaran. Rasa-rasanya, semua hal di dunia ini ingin saya pelajari dan ketahui. Kepala kecil saya saat itu ramai sekali, dipenuhi pertanyaan yang lalu-lalang tanpa permisi. Kadang saya sampai bingung sendiri, "Ini pertanyaan datangnya dari mana, ya?" Bukan cuma hobi bertanya, saya juga senang mengamati hal-hal kecil di sekitar. Bahkan, saya punya "koleksi harta karun" yang cukup unik: perangko bekas, ...