KBMN
GEL 35 PGRI
DAY
5: 5 Oktober 2026
GAGAL ATAU BERHASIL?
Dhama Ady Saputra
Gemuruh Stadion Gelora Bung Karno pecah malam ini! Teriakan histeris puluhan ribu suporter membubung tinggi ke udara
saat Timnas Indonesia resmi mengunci gelar Juara FIFA ASEAN Cup 2026
setelah menang dramatis lewat adu penalti 4–2 atas Thailand.
Senyum, tawa, pelukan hangat, hingga
tetesan air mata haru mewarnai seantero negeri. Sebuah akhir drama sepak bola
yang manis sekaligus mengocok emosi.
Tapi, bagaimana dengan pihak lawan?
Di sudut lain, air mata kesedihan dan rasa
kecewa membungkus skuad Timnas Thailand dan para pendukungnya. Harapan
mengangkat piala pupus di menit-menit akhir. Banjir air mata tak terbendung
lagi.
Namun, mari kita renungkan sejenak: Apakah
tim Thailand benar-benar gagal total?
Bukankah sampai ke babak final saja sudah
merupakan keberhasilan luar biasa setelah menumbangkan tim-tim tangguh lainnya?
Nah... ternyata "gagal" atau
"berhasil" itu sangat relatif, kan? Semua tergantung dari sudut kaca
mata mana kita memandangnya. Kebanyakan hal di dunia ini ibarat koin yang
selalu punya dua sisi.
Tapi tenang... tulisan ini bukan lagi
membahas taktik sepak bola!
Bicara soal kegagalan, hampir semua orang
sepakat bahwa rasanya pahit. Ada sedih, kecewa, marah, rasa bersalah, hingga
putus asa yang campur aduk jadi satu. Sangat manusiawi, karena tidak ada satu
orang pun di bumi ini yang bercita-cita untuk gagal.
Untuk menghindari kegagalan, kita biasanya
menyiapkan berbagai "modal"—bukan cuma soal uang, tapi juga wawasan,
relasi, hingga mental baja.
Saya pun pernah mengalami momen
"kecewa berat" akibat gagal.
Beberapa tahun lalu, saya mendaftar untuk
ikut sebuah proyek buku antologi. Karena tenggat waktu sudah sangat mepet (ehm,
ini murni salah saya juga sih yang kurang pintar mengatur waktu!), saya
buru-buru mengirimkan naskah tulisan yang menurut keyakinan pribadi sudah bagus
dan matang.
Apalagi, modal percaya diri saya sedang
tinggi-tingginya. Tulisan itu diangkat dari pengalaman nyata yang unik,
ditambah track record saya yang sudah beberapa kali lolos kurasi di
acara serupa. Pikir saya: "Ah, pasti loloslah!"
Tapi apa yang terjadi setelah tim kurator
selesai bekerja?
Jeng... jeng! Naskah saya dinyatakan TIDAK
LOLOS. Tulisan saya dianggap kurang sesuai dengan syarat dan
ketentuan yang ditetapkan panitia.
Sedih? Jelas, rasanya nylekit
sekali! Rasa percaya diri yang tadi membumbung tinggi mendadak kempes
seketika.
Lalu, apa yang saya lakukan setelah kena
penolakan itu? Apakah saya langsung membanting laptop dan pensiun menulis?
Tentu tidak. Saya mengambil napas
dalam-dalam, lalu berbisik pada diri sendiri: "Sedih itu boleh dan
wajar, tapi sebentar saja ya! Habis ini, yuk bangkit lagi, buka laptop, dan
ketik cerita baru."
Ajaibnya, begitu sudut pandang diubah,
dada yang tadinya sesak mendadak terasa plong. Saya seperti menyedot energi
baru!
Saya memilih untuk terus merawat minat
(atau sebagian orang menyebutnya "talenta") di bidang tulis-menulis
ini. Sejak momen kegagalan kecil itu hingga hari ini, jemari saya justru makin
lincah dan produktif menetas belasan buku antologi dengan beragam tema yang
menghangatkan jiwa.
Jadi kalau ditanya lagi: Sebenarnya
waktu itu saya gagal atau berhasil? Saya hanya tersenyum saja.
Saya jadi teringat kutipan indah dari
Arianna Huffington, seorang penulis dan pendiri media asal Yunani-Amerika:
"Kegagalan bukanlah kebalikan dari
kesuksesan; kegagalan adalah bagian dari kesuksesan itu sendiri. Jika Anda
tidak pernah gagal, Anda tidak akan pernah belajar cara untuk menjadi lebih
baik."
Orang-orang hebat yang berhasil hari ini
biasanya adalah mereka yang koleksi "piala kegagalannya" paling
banyak, namun memilih untuk tidak berhenti melangkah.
Untuk Teman-teman semua, atau siapa saja
yang hari ini sedang merasa sedih karena baru saja diterjang kegagalan—baik
sekali maupun berkali-kali—ingat pesan ini: Jangan pernah menyerah!
Berhenti sejenak untuk meluruskan kaki
boleh banget. Menangis untuk meluapkan sesak di dada juga sangat manusiawi.
Tapi setelah air mata kering, usap wajahmu, tersenyumlah, lalu segera berdiri
tegak!
Masih banyak pintu keberhasilan lain yang
sedang melambaikan tangan menunggu kedatanganmu di depan sana.
Yuk, rapihkan barisan... Gasspol, Rem
Blong!
Daftar
Pustaka:
- Detikcom.
(2026, 5 Oktober). Indonesia juara FIFA ASEAN Cup 2026 usai kalahkan
Thailand lewat adu penalti. https://www.detik.com/sumbagsel/sepakbola/d-8693918/indonesia-juara-fifa-asean-cup-2026-usai-kalahkan-thailand-lewat-adu-penalti
- Liputan6.com.
(2024, 15 November). 350 Quote kegagalan untuk memotivasi dan
menginspirasi. https://www.liputan6.com/feeds/read/5807296/350-quote-kegagalan-untuk-memotivasi-dan-menginspirasi
- Pambudhy,
A. (2026). Selebrasi Kemenangan Timnas Indonesia
[Foto]. Detikfoto.

Sepakat
BalasHapusTerima kasih. 🙏
Hapus