KBMN
GEL 35 PGRI
DAY 4: 4 Oktober 2026
“ADHANG-ADHANG TETESE
EMBUN”
Dhama Ady Saputra
"Adhang-Adhang
Tetese Embun. Ojo ngoyo nggayuh lintang yen lali nyawang tetese embun,
mergo kabegjan sejati asring teko seko perkoro cilik sing disyukuri."
Terjemahan
bebasnya kurang lebih begini: "Menantikan menetesnya embun.
Jangan terlalu memaksakan diri mengejar bintang jika sampai lupa melihat
tetesan embun, karena kebahagiaan sejati sering kali datang dari hal-hal kecil
yang disyukuri."
Kalimat indah
bernuansa filosofis itu saya temukan tadi pagi saat sedang dalam perjalanan
keluar kota bersama keluarga. Tulisan tersebut terpatri rapi di bak belakang
sebuah truk yang melaju tepat di depan mobil kami. Tanpa tunggu lama, saya
langsung merogoh saku, mengambil ponsel, lalu mengabadikannya. (Disclaimer:
Ini terjadi pas di pertigaan lampu merah ya, jadi dijamin super aman dan bebas
tilang!).
Sederhana...
menarik... tapi dampaknya langsung meresap dalam ke relung hati.
Sedetik kemudian,
ingatan saya mendadak melayang pada beberapa wajah ceria yang pernah menghiasi
ruang kelas saya: murid-murid berkebutuhan khusus.
Lho,
apa hubungannya antara filosofi di belakang truk sama murid berkebutuhan
khusus?
Ceritanya berawal
dua tahun lalu saat saya mengajar di sekolah baru. Waktu itu, saya dipercaya
menjadi wali kelas IX yang dihuni oleh 32 murid. Yang bikin kelas ini super
spesial adalah hadirnya anak-anak berkebutuhan khusus. Tidak cuma satu, tapi
empat anak sekaligus!
Sebagai informasi,
sekolah kami memang ditunjuk oleh pemerintah daerah sebagai sekolah inklusi.
Jadi, anak-anak dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan khusus belajar
bersama dengan teman-teman lainnya di bawah satu atap yang sama.
Membicarakan
keempat murid istimewa ini, ada seorang rekan guru yang menyebut mereka sebagai
"Anak-Anak Ahli Surga".
Istilah ini sangat
menyentuh. Mengutip penjelasan Buya Yahya dalam salah satu ceramahnya,
anak-anak berkebutuhan khusus adalah jiwa-jiwa yang suci dari dosa. Kehadiran
mereka di tengah kita adalah "tangga kemuliaan" yang Allah
kirimkan, pembawa pahala besar bagi orang tua, serta kunci pembawa keberkahan
bagi seluruh anggota keluarga.
Dan tahukah Anda?
Keempat "Anak Surga" di kelas saya ini punya potensi ajaib yang
sering bikin saya salut!
- Si Jago Matematika & Bahasa Inggris:
Ada satu anak yang tak hanya piawai berhitung, tapi juga cas-cis-cus
bahasa Inggris. Suatu kali, iseng-iseng saya tantang dia untuk impromptu
speech (pidato mendadak tanpa teks dan tanpa persiapan) selama tiga
menit di depan kelas. Hasilnya? Dia melahap tantangan itu dengan mulus! Wow,
luar biasa super!
- Si Pengisi Acara:
Ada lagi anak yang hobi sekali menyanyi. Kalau sedang belajar sehari-hari,
dia cenderung pemalu dan pendiam. Tapi begitu ada acara HUT RI di sekolah
dan dia minta izin tampil menyanyi di depan teman-temannya... magic!
Rasa percaya dirinya langsung meledak indah. Di situlah kilauan bakatnya
terpancar.
- Si Pelukis Kaligrafi:
Yang ketiga sangat suka menggambar. Saat sekolah mengadakan lomba
keagamaan antar kelas, dengan mata berbinar dia mendekati saya dan
bertanya, "Mr., boleh tidak saya ikut lomba menggambar
kaligrafi?" Tanpa pikir panjang, saya langsung berseru, "Boleh
banget, ayo!"
- Si Pemalu yang Berani Bersuara:
Anak keempat ini awalnya pemalu luar biasa. Tiap kali pelajaran
berlangsung, dia lebih banyak menunduk dan tak berani menjawab pertanyaan.
Tapi begitu diberikan sedikit dorongan hangat dan motivasi telaten,
perlahan tapi pasti, dia mulai berani angkat tangan dan menyampaikan
pendapatnya.
Puncak kebersamaan
kami terjadi saat saya menantang seluruh isi kelas—ke-32 murid saya tanpa
terkecuali—untuk menuliskan sebuah cerita. Masing-masing diminta meracik
pengalaman, harapan, kesaksian, dan rasa bangga mereka terhadap sekolah.
Hasilnya? Lahirlah
sebuah buku antologi berjudul "Cinta Buat Dutiska" yang
diterbitkan oleh Binar Media.
Dan bagian yang
paling bikin dada ini bergetar haru: keempat murid berkebutuhan khusus tadi
ikut menyumbangkan karya tulisan mereka! Sejak awal saya selalu menanamkan
ke hati mereka: "Di kelas ini, tidak ada yang tidak bisa. Semua orang
punya cerita, dan semua orang BISA menulis."
Nah, mari kita
berhenti sejenak dan kembali ke pertanyaan awal: Apa hubungannya pengalaman
ini dengan tulisan di bak truk tadi?
Sebagai guru,
sadar atau tidak, kita ini sering kali ngoyo (terlalu memaksakan diri).
Kita sering menaruh ekspektasi melangit: ingin punya murid yang selalu penurut,
rajin, cepat paham, dan pinter dalam segala hal. Kita ingin begitu menebar
materi, hari itu juga murid langsung mengerti dan langsung mahir. Kita ingin
memanen benih yang kita tanam secara instan.
Tapi, apakah hidup
dan dunia pendidikan berjalan seideal itu? Tentu tidak.
Tuhan Sang Maha
Penata Skenario sering kali punya rencana yang jauh lebih indah dari sekadar
keinginan kita. Dia menghadirkan anak-anak itu sesuai dengan waktu-Nya.
Bisa jadi, tugas
kita sebagai guru "hanya" diminta untuk menemani anak-anak Surga
tersebut sampai di titik tertentu saja. Setelah itu, akan ada utusan-utusan
Tuhan lainnya yang memegang tangan mereka untuk melangkah ke titik-titik
keberhasilan berikutnya. Tidak ada yang tahu rahasia masa depan selain Dia Sang
Empunya Masa Depan sendiri.
Dari peristiwa
demi peristiwa bersama anak-anak ini, saya seperti ditampar lembut oleh tulisan
di truk tadi. "Tetesan embun" kebahagiaan saya sebagai
pendidik ternyata bukan saat melihat nilai ujian sempurna di atas kertas atau
saat melihat mereka mengangkat piala kejuaraan. Tetesan embun itu hadir justru
saat saya diberi kesempatan untuk membersamai proses belajar mereka.
Bersama mereka,
saya belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih rendah hati, belajar
meruntuhkan tembok diskriminasi, serta belajar mengasihi dengan
setulus-tulusnya tanpa syarat.
Ya
Tuhan, terima kasih atas setiap kesempatan yang Engkau izinkan hadir dalam
perjalanan hidupku.
Mampukan
hamba-Mu ini untuk selalu peka dan bersyukur atas setiap "tetesan
embun"—nikmat-nikmat kecil yang Engkau karuniakan setiap hari.
Daftar Pustaka:
1. Al-Bahjah TV. (2024, 18 September). Anakku berkebutuhan khusus, mengapa?? | Buya Yahya [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=SERm6g1ewZk.
2. Foto: Koleksi pribadi.

Insya Allah mampu
BalasHapusTerima kasih. 🙏
Hapus