# KBMN GEL 35 PGRI
# DAY 2
PENGALAMAN MENGUNJUNGI
MURID
Dhama Ady Saputra
Pepatah lama yang
sering kita dengar sejak kecil itu mendadak jadi mantra sakti dan penyelamat
hidup saya beberapa tahun yang lalu.
Saat itu, memori
saya melayang ke masa-masa mengajar di sebuah SMK yang bertengger cantik di
lereng gunung. Secara geografis, daerahnya berudara dingin menusuk tulang
dengan kontur tanah yang menguji ketahanan betis—naik-turun luar biasa.
Sebagian murid memang tinggal di sekitar sekolah, tapi tidak sedikit yang
rumahnya berada di desa-desa tertinggi, bertetangga langsung dengan puncak
gunung.
Waktu itu, saya
dipercaya menjadi wali kelas. Salah satu "agenda wajib" yang saya
rancang adalah datang dan bertamu ke rumah murid-murid saya. Total ada 25 rumah
yang siap disinggahi.
Prinsip saya
simpel: selesaikan yang paling berat dulu! Jadi, saya mulai dari murid yang
rumahnya paling jauh, berjarak sekitar satu hingga dua jam perjalanan dari
kediaman saya. Saking jauhnya, daerah-daerah tersebut bahkan sudah melompati
batas kabupaten tempat sekolah kami berada.
Sebagai pendatang
yang bukan warga asli daerah tersebut, ekspedisi ini jelas jadi tantangan
tingkat tinggi. Rutinitas hari Minggu saya pun berubah total. Biasanya, saya
berangkat sekitar pukul 11.00 siang dan baru kembali mendarat di rumah jam
19.00 malam. Sekali jalan, target saya adalah menyambangi lima rumah sekaligus.
Ingat, ini
masa-masa legendaris saat SMS masih jadi raja komunikasi—belum ada WhatsApp
atau petunjuk arah serba instan. Bagi saya yang "buta" peta lokasi,
menelusuri jalanan gunung sungguh membuat senam jantung. Mau telepon atau SMS
tanya alamat? Kendala utamanya adalah sinyal yang hobi mati-hidup dan
hilang-timbul sesuka hati.
Akhirnya, saya
merapal petuah dari dosen saya zaman kuliah dulu: "Kalau tidak bisa
dihindari, ya dinikmati saja."
Pak Dosen, kali
ini saya benar-benar mempraktikkan kata-kata Bapak! Awalnya memang ada rasa
malu karena harus berhenti dan bertanya berulang kali hanya untuk menemukan
satu alamat. Tapi lama-lama, proses blusukan ini malah jadi mengasyikkan.
Setiap orang yang saya temui di pinggir jalan jadi kompas hidup saya.
Mungkin ada yang
bertanya, "Pak, buat apa cape-cape keliling gunung cuma buat ke rumah
murid?" Bagi saya, ada tiga alasan besar yang dari hati ingin saya
perjuangkan:
- Membangun Mitra Utama:
Orang tua adalah mitra sejajar bagi sekolah. Dengan menjalin hubungan yang
hangat, mendidik anak bukan lagi beban tunggal sekolah, melainkan
perjalanan kerja sama yang harmonis antara orang tua dan guru.
- Berburu "Lisensi Kerelaan":
Ada satu kalimat dari orang tua yang selalu saya tunggu-tunggu dengan
sabar: "Pak Guru, anak saya pasrahkan untuk dididik di sekolah.
Kalau nakal, silakan ditegur atau ditindak sesuai aturan."
Kalimat sederhana ini sangat berharga, karena keterbukaan dan rasa percaya
adalah pondasi utama relasi guru dan orang tua.
- Melihat Realitas yang Tak Terlihat:
Di sekolah, semua murid mengenakan seragam yang sama. Sulit melihat
perbedaan latar belakang mereka. Tapi saat melangkah ke rumah mereka, saya
bisa memahami pola asuh, kondisi ekonomi, hingga lingkungan yang membentuk
karakter anak. Dari situ, saya belajar memahami mereka dengan lebih
empati.
Ada satu bagian
yang paling berkesan sekaligus menggelitik dari ekspedisi ini.
Setiap kali saya
melangkahkan kaki ke dalam rumah, segelas minuman hangat dan sepiring nasi
beserta lauk pauk selalu menyambut di meja. Coba bayangkan: dalam satu hari
saya mengunjungi lima rumah. Artinya? Lima gelas minuman plus lima piring
nasi lengkap!
Tentu saja saya
santap dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Tapi tak bisa dimungkiri, begitu
selesai melakoni kunjungan kelima dan bersiap pulang, perut ini rasanya kenyang
luar biasa! Namun di balik perut yang begah itu, ada rasa haru yang membuncah.
Betapa orang tua murid berusaha menjamu guru anak-anak mereka dengan
penghormatan yang begitu tulus.
Bahkan, tak jarang
saat pamitan pulang, tangan saya dibekali beraneka ragam sayuran segar hasil
panen sendiri, karena mayoritas dari mereka adalah petani yang tangguh.
Apakah saya
senang? Tentu saja, luar biasa senang! Bukan sekadar karena sambutan hangat,
jamuan makan kenyang, atau "oleh-oleh" sayurnya, melainkan karena
misi tulus saya untuk menyapa dan merangkul keluarga murid telah sampai ke
tujuan.
Pengalaman
blusukan di lereng gunung ini takkan pernah terhapus dari ingatan. Meskipun
hari ini saya sudah tidak lagi mengajar di sekolah tersebut, kenangan-kenangan
indah itu tetap tersimpan rapi di relung hati yang paling dalam.
Menjadi guru bukan
cuma tentang mengajar di depan papan tulis, tapi tentang hadir dan menyentuh kehidupan mereka secara
nyata.
Salam hangat, tetap semangat berbagi dan mengabdi!
Daftar Pustaka:
1. Foto: Wikimedia Commons. (n.d.). Gunung
Merbabu 2 [Foto]. Diambil 2 Oktober 2026, dari https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b1/Gunung_Merbabu_2.jpg.

Semangattt selalu,
BalasHapusTerima kasih. 🙏
HapusTerima kasih. 🙏
HapusLuar biasa
BalasHapusTerima kasih. 🙏
HapusSangat mengesankan ya pak
BalasHapusTerima kasih. 🙏
Hapus